Salahuddin Al-Ayyubi lahir pada tahun 1137 atau 1138 Masehi di Tikrit, Irak. Beliau berasal dari keluarga suku Kurdi yang terhormat. Ayahnya, Najmuddin Ayyub, dan pamannya, Asaduddin Shirkuh, adalah perwira militer yang mengabdi pada Dinasti Zankiyah di Mosul dan Aleppo. Salahuddin lahir, ketika ayahnya menjadi penguasa Seljuk di Tikrit. Saat itu baik ayah maupun pamannya mengabdi kepada Imaduddin Zanki, gubernur Seljuk untuk kota Mosul, Irak. Ketika Imaduddin berhasil merebut wilayah Baalbek, Lebanon pada tahun 534 H/1139 M, Najmuddin Ayyub diangkat menjadi gubernur Baalbek dan menjadi pembantu dekat penguasa Suriah Nuruddin Zanki. Selama di Baalbek inilah Shalahuddin mengisi masa mudanya dengan belajar strategi militer dan juga politik.

       Karir militer Salahuddin mulai menanjak saat ia mendampingi pamannya, Asaduddin Shirkuh, dalam ekspedisi militer ke Mesir untuk membantu Khalifah Fatimiyah yang sedang lemah. Setelah serangkaian manuver politik dan militer yang brilian, Shirkuh berhasil menjadi wazir (perdana menteri) di Mesir. Namun, tak lama kemudian Asaduddin Shirkuh wafat, dan Salahuddin diangkat menggantikannya pada tahun 1169 M.

       Salahuddin menunjukkan kecakapannya sebagai pemimpin. Ia berhasil menstabilkan Mesir, memperkuat militernya, dan yang terpenting, secara bertahap menghapus pengaruh Syiah Ismailiyah dari Kekhalifahan Fatimiyah. Pada tahun 1171 M, ia secara resmi mengembalikan Mesir ke pangkuan akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di bawah Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad. Setelah Sultan Nuruddin Zanki wafat pada tahun 1174 M, terjadi perebutan kekuasaan di Suriah. Salahuddin melihat ini sebagai peluang emas untuk mewujudkan cita-cita Nuruddin, yaitu menyatukan kekuatan Muslim di Mesir dan Suriah sebagai persiapan jihad melawan Pasukan Salib. Ia membangun Daulah Abbasiyah pada tahun 1174M